close -->
close
0



عَنِ النَّوَاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأنْصَارِيْ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ, فَقَالَ:
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَاحَاكَ فِيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ )) ))

Dari Nawas bin Sam’an, ia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang al birru dan al itsmu.
Rasulullah saw. menjawab, “Al birru adalah husnul khuluq -akhlak yang baik-. Dan al itsmu adalah apa saja yang tersirat dalam hatimu yang kamu tidak ingin sesuatu itu diketahui oleh manusia.

Takhrij Hadits
Hadits diatas dikutip dari kitab Bulughul Maram, Kitab al-Jaami’, bab al-adab hal. 430, no hadits 1482 (Riyadl: Dar as-Salam, 2004). Mengutip dari Imam Muslim dengan sumber sahabat Nu’man bin Basyir. Setelah ditelusuri, hadits tersebut terdapat juga dalam beberapa kitab hadits primer berikut:
1. Shahih Muslim no. 2553 Kitaabu Jaami’ bab al biri wash shilah wal adab.
2. Sunan Imam at Tirmidzy no. 2389 abwaabuz zuhud bab maa jaa a fil birri wal itsmi.
3. Musnad Ahmad bin Hambal, hadits Nawas bin Sam’an no. 18098
4. Sunan Addarimy, kitab Riqaaq no. 73

Matan Hadits
Matan (redaksi) hadits yang lebih lengkap dapat dilihat dari hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim akan tetapi dari guru yang berbeda. Redaksi lengkapnya sebagai berikut, Imam Muslim telah berkata:

حَدَّثَنِيْ هَارُوْنُ بْنُ سَعِيْدٍ الأَيْلِي حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِيْ مُعَاوِيَةُ (يَعْنِيْ ابْنُ صَالِحٍ) عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ نَوَاسِ ابْنِ سَمْعَانَ قَالَ أَقَمْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِيْنَةِ سَنَةً مَايَمْنَعُنِيْ مِنَ الْهِجْرَةِ إِلاَّ الْمَسْأَلَةُ كَانَ أَحَدُنَا إِذَا هَاجَرَ لَمْ يَسْأَلْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ فَسَأَلْتُهُ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ))
Telah menceritakan kepada kami Harun ibn Sa’id al Ayli telah menceritakan Abdullah ibn Wahb, telah menceritakan Mu’awiyah (yakni Ibnu Shalih) dari Abdurrahman ibn Jubair ibn Nufair dari bapaknya dari Nawas ibn Sam’an ia telah berkata: “Saya tinggal bersama Rasulullah saw di Madinah selama satu tahun. Tidak ada yang mengahalangiku untuk berhijrah kecuali dikarenakan ada satu permasalahan. Adalah kami apabila berhijrah tidak bertanya kepada Rasulullah saw tentang sesuatu pun.” Dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang al birru dan al itsmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Al birru adalah husnul khuluq -akhlak yang baik-. Dan al itsmu adalah apa saja yang tersirat dalam dirimu yang kamu tidak ingin sesuatu itu diketahui oleh manusia”.

Al Qaadhii menjelaskan bahwasanya Nawas bin Sam’an tinggal di Madinah itu sebagai pendatang yang tidak bermaksud untuk menetap di Madinah. Dan tidak ada yang menghalanginya untuk hijrah, yakni berdomisili di Madinah kecuali keinginannya untuk bertanya kepada Rasulullah saw tentang urusan agama dan Rasulullah saw mengizinkan hal tersebut bahkan terhadap orang asing. Adapun kaum muhajirin mereka merasa senang dengan adanya pertanyaan dari orang asing baik dari kalangan Arab maupun non Arab, dikarenakan mereka dapat ber istifadah dari pertanyaan tesebut.







Syarah Mufradat
1. Al birru
Dalam kamus Al Munawwir البِرُّ bermakna الطاعة ketaatan, الصلاح keshalehan, الخير kebaikan الشفقة و اللطف belas kasih, الصدق kebenaran, الخير في الاتساع banyak berbuat kebaikan dan الجنة surga (Kamus Al Munawwir hlm. 74).
Adapun dalam Subulussalam, البِرُّ dengan meng kasrah kan ba bermakna الخيرات فعل فيالتوسع banyak berbuat kebaikan. Sedangkan البَرُّ dengan meng fathah kan ba bermakna المتوسع في الخيراتMaha luas dalam berbuat kebaikan. Dan ini termasuk sifat Allah SWT. (Subulussalam IV hal. 160).

2. Al Itsmu
Asal katanya اثاما و اثما و اثما يأثم اثم
Yang bermakna, الذنب dosa, kesalahan, الشر kejelekan, kejahatan. (Al Munawwir hal. 8).

Syarah Ijmaliy
Sabda Rasulullah saw tentang al birru ini dijelaskan oleh Imam an Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Beliau berkata, “para Ulama menyatakan bahwa al birru mempunyai makna hubungan, shadaqah, belas kasih, pergaulan yang baik dan ketaatan. Dan hal ini merupakan kumpulan akhlak yang baik.”

Sedangkan menurut Qadhi Iyadh yang dikutip dalam Subulussalam jilid IV hal. 151 dinyatakan, “Akhlak yang baik ialah hendaklah bergaul dengan manusia dengan akhlak yang bagus, penuh rasa bahagia, cinta dan kasih sayang terhadap mereka, menanggung beban mereka, sabar atas kejelekan mereka, menjauhi sikap sombong, angkuh ,keras serta amarah”.

Dalam ta’riifaat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan husnul khuluq -akhlak yang baik- ialah suatu sikap perbuatan baik yang lahir dari spontanitas tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu.

Adapun tentang al itsmu Imam Nawawi dalam kitab syarahnya menjelaskan,”makna maa haaka fii shadrika ialah suatu kondisi dimana dada bergejolak, penuh kebimbangan dan tidak adanya kelapangan dalam dada, sehingga timbul dalam hati keragu-raguan dan takut jatuh dalam perbuatan dosa.”

Sehingga dapat difahami dalam penjelasan diatas, bahwa hendaklah meninggalkan sesuatu yang diragukan kebolehannya. Hal ini senada dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Hasan bin Ali:
دع ما يريبك إلى ما لايريبك
“Tinggalkanlah yang meragukan kepada yang tidak ada keraguan padanya”.

Hadits diatas juga merupakan dalil bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan dalam diri manusia pengetahuan akan perbuatan yang boleh dan tidaknya untuk dikerjakan. Wallahu a’lam bish shawaab.

Dikirim pada 13 Januari 2012 di Tafsir Hadits



Bahasa, dalam pengertiannya yang paling mendasar adalah bentuk ungkapan yang dipakai dan disepakati suatu kelompok masyarakat untuk menyampaikan maksud diantara mereka. Bahasa juga menjadi rumah pikir para penggunanya. Banarlah ta’rif yang berbunyi al-insaanu hayawaanun naathiq, bahwa manusia adalah hewan yang berbicara/berpikir. Kata naatiq diantaranya mengandung makna bicara dan logika. Maka, ketika berbahasa, seseorang sesungguhnya juga sedang berfikir. Sebaliknya pula, ketika berpikir, seseorang juga tengah berbahasa.

Syaikh Mustafa al-Gulayayniy memberikan pengertian bahasa sebagai berikut :
اللغةالفاظ يعبربهاكل قوم عن مقاصدهم
Artinya :
"Bahasa adalah kata lafal yang digunakan oleh setiap orang (kaum) dalam menyampaikan maksud mereka."

Senada dengan pendapat di atas, Ahmad Al-Hashimiy memberikan pengertian sebagai berikut :
اللغة فعل لسانىاوالفاظ يأتى بهاالمتكلم ليعرف غيره ما فى نفسه من المقاصد والمعانى
Artinya :
Bahasa adalah perbuatan ilmiah lidah (ucapan lisan) atau beberapa lafal yang diucapkan si pembicara untuk memberitahukan orang lain mengenai apa yang diucapkan si pembicara untuk memberitahukan orang lain mengenai apa yang terdapat pada dirinya dari beberapa maksud dan tujuan.

Selanjutnya dalam buku Problematika Bahasa Arab oleh Kusno Budi Santoso, dijelaskan bahwa bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi adalah merupakan rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap secara sadar dan diatur oleh suatu sistem.

Oleh karena itu dapat dipahami bahwa bahasa adalah merupakan alat tersendiri yang dipergunakan untuk berkomunikasi yang terdiri dari kata yang harus mengandung pengertian dan maksud tertentu.

Selanjutnya penulis akan mengemukakan pengertian bahasa Arab sebagai berikut :
Menurut Syaikh Mustafa al-Gulayayniy :
اللغة العربية هى الكلمات التى يعبربها العرب عن اغراضهم
Bahasa Arab adalah kalimat yang dipergunakan bangsa Arab dalam mengutarakan maksud/tujuan mereka.
Adapun Ahmad al-Hasyimiy mengemukakan bahwa:
ومن ذلك لغتناالعربية الاصوات محتوبة بعض علىالحروف الهجائية
Oleh sebab itu bahasa Arab adalah suara-suara yang mengandung sebahagian huruf hijayyah.

Defenisi bahasa Arab yang dikemukakan oleh dua orang pakar di atas, isi dan redaksinya saling berbeda tetapi maksud dan tujuannya sama. Oleh karena itu, penulis menarik kesimpulan bahwa bahasa Arab itu adalah alat yang berbentuk huruf hijaiyyah yang dipergunakan oleh orang Arab dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial baik secara lisan maupun tulisan.
Hukum mempelajari Bahasa Arab
Ilmu bahasa arab mempunyai dua tujuan:
1. Memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar.
2. Menjaga lidah agar tidak salah dalam mengucapkan kedua wahyu tersebut.

Berhubung kedua perkara di atas adalah wajib, maka hukum mempelajari bahasa arab juga wajib, tapi wajib kifayah, bukan wajib ain. Jadi, hukum mempelajari bahasa arab sama seperti hukum mempelajari ilmu-ilmu alat lainnya, yaitu fardhu kifayah. Karenanya jika di suatu daerah ilmu-ilmu alat seperti ini dibutuhkan maka wajib atas penduduk daerah tersebut -secara umum- untuk mempelajari ilmu tersebut. Tapi jika sudah ada sebagian dari penduduk daerah tersebut yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Sudah dimaklumi bersama bahwa hukum mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab adalah fardhu kifayah.” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/252)

Dan di tempat yang lain beliau berkata, “Ditambah lagi, bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama sehingga mengetahui bahasa Arab adalah wajib. Karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib, sementara keduanya tidak mungkin bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Dan sesuatu yang kewajiban tidak sempurna terlaksana kecuali dengannya maka sesuatu itu juga wajib.” Mirip dengannya diutarakan oleh Ar-Razi dalam Al-Mahshul (1/275).

Berproses dalam berbahasa Arab
Berbahasa adalah berproses. Berproses lebih penting dari sekedar proses. Proses dalam bahasa adalah tahapan dan tingkatan yang harus dihadapi secara periodik. Mulai dari tingkatan ibtida’iy, mutawassith hingga mutaqaddim. Ketika berbahasa difahami sebagai sebuah laku melewati tahapan saja tanpa ikut berproses didalamnya, maka proses tersebut akan bermakna sebagai proses bahasa, belum berproses berbahasa. Karena berproses berbahasa membutuhkan kerja aktif untuk mengoptimalkan diri, tidak hanya mengikuti alur belajar bahasa.

Dalam tahapan belajar bahasa, seorang anak kecil memiliki cerita yang menarik untuk kita pelajari. Seringkali, dalam acara motivasi berbahasa, pembicara mengambil contoh tentang anak kecil asal Arab yang mampu fasih berbahasa Arab, mengapa kita tidak? Sebenarnya tidak cukup relevan untuk membandingkan mereka dengan kita, karena beberapa perbedaan yang mendasar, meliputi lingkungan maupun kultur. Namun menurut hemat kami, ada pesan yang lebih penting untuk kita tangkap. Yakni, pentingnya berproses, tidak hanya hanyut dalam proses.

Ada beberapa hal yang menarik terkait dengan sosok anak kecil yang fasih berbahasa arab. Diantaranya, antusias, keuletan, dan pendamping.

Pertama, antusias berbahasa. Anak kecil cenderung memiliki antusias yang tinggi. Rasa ingin tahu menjadi motivator. Sebelum mengetahui apa yang ingin diketahui, proses pencarian tiada henti. Dalam tahapan awal berbicara, anak kecil selalu meniru apa yang ia dengar, kemudian mempraktekannya. Mulanya, terbata-bata, dengan terus diulang-ulang, tak ayal semakin lancar. Antusias lebih kuat daripada niat, ia lahir atas kesadaran yang tulus, dibangun dengan komitmen, difungsikan dengan semangat, diorientasikan untuk mencapai hasil. Spirit “antusias” itulah yang perlu diterapkan dalam berbahasa Arab. Seperti anak kecil yang belum kenal bahasa tadi, kita sebagi orang ‘ajam (Li ghairin-naathiqiin bil-‘Arabiyah) sudah seharusnya memiliki antusias yang tinggi dalam berbahasa. Antusias berbahasa dimaksudkan mengoptimalkan diri dalam kegiatan berbahasa.

Kedua, Keuletan. Terus-menerus melatih berbahasa. Selalu mencoba; mengeja, membaca, berkata dan seterusnya. Salah, bukan berarti akhir untuk mencoba. Justru dengan kesalahan menjadi bahan evaluasi guna memperbaiki lebih baik.

Ketiga, pendampingan dan bimbingan. Peran penting pendamping dan pembina sangat signifikan dalam kesuksesan berbahasa. Pendampingan bukan berarti sebagai pengawas, jasus, tapi sebagai “sahabat berbahasa”. Ketika pendamping berfungsi sebagai sahabat berbahasa, maka antusians berbahasa semakin meningkat. Berbeda ketika pendamping berfungsi sebagai pengawas, yang timbul adalah perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Sehingga tujuan berbahasa tidak lagi berbasis antusias, tapi kekhawatiran.

Kendala mempelajari Bahasa Arab dan Solusi pemecahannya
Meskipun bahasa Arab telah lama dipelajari di pesantren-pesantren baik tradisional maupun modern. Akan tetapi hal tersebut tidak memperlihatkan hasil yang signufikan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Secara umum, pesantren salaf memiliki keunggulan dalam mengeksplorasi referensi kitab dengan bekal pengetahuan gramatika yang memadai. Sementara pesantren modern unggul dalam komunikasi aktif.

Beberapa sekolah –Madrasah Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, ‘Aliyah dan perguruan tinggi islam- telah memberlakukan wajib berbahasa Arab yang disertai dengan pemberlakuan zona bahasa. Secara formal, peraturan tersebut cukup ideal. Namun dalam prakteknya aturan itu sulit diterapkan. Kendala yang timbul diantaranya:
1. Keterbatasan pengetahuan siswa dalam bahasa Arab.
2. Minimnya kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa Arab.
3. Belum tersedianya buku panduan muhadatsah yang representatif.
4. Mayoritas lingkungan yang menggunakan bahasa Undonesia atau bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari.
5. Tata tertib yang mengatur penggunaan bahasa yang ada terkadang belum ditunjang dengan sistem reward dan punishment.

Untuk meminimalisir problem tersebut, khususnya yang terkait dengan peningkatan partisipasi aktif dalam berkomunikasi, ada beberapa formula yang perlu diterapkan;

Pertama, memberikan pandangan bahwa bahasa Arab itu mudah. Artinya untuk membangun sebuah persepsi bahwa bahasa itu bisa dipelajari dan mudah dipahami, bukannya ditakuti selanjutnya dihindari.

Kedua, pembelajaran bahasa Arab bukan hanya berupa presentasi materi an sich, akan tetapi bagaimana materi terebut ditransmisikan ke peserta didik yang menjadikan paham.

Ketiga, memperjelas orientasi dan motivasi dalam belajar bahsa Arab. Kemanakah arah pembelajaran bahasa Arab ditujukan; untuk membantu memahami naskah, media komunikasi atau profesi? Selama ini, motivasi belajar bahasa Arab dilandasi dalil normatif; bahasa Arab adalah bahasa al Qur’an dan bahasa penduduk surga! Akan lebih menarik tentunya, apabila motivasi mempelajarinya adalah untuk menjadi jubir bahasa Arab, menulis buku berbahasa Arab, melanjutkan studi dan menjadi tenaga kerja di Timur Tengah, menjadi mufassir atau ilmuwan, penerjemah buku ataupun penerjemah fauriyah (spontan). Sebuah motivasi yang mampu menggugh semangat berbahasa.

Keempat, membangun mentalitas. Berani berbicara, kesalahan bukan menjadi hal yang oerlu ditakuti, tapi sebagai evaluasi.

Kelima, membangun lingkungan berbahasa Arab (zona bahasa).

Keenam, inovasi baik dalam metode maupun sistem.

Khatimah
Demikian tulisan ini kami susun dengan harapan dapat meningkatkan kembali minat pembaca dalam berbahasa Arab. Akhirul kalam MARI BERBAHASA ARAB.

Maraji’
1. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. Prof. Dr. Azhar Arsyad
2. La Taskut. Panduan Praktis Percakapan Bahasa Arab. Misbah Khoiruddin Zuhri dan M. Shabirin Suhail
3. Kamus tiga Bahasa percakapan praktis sehari-hari. KH. Aceng Zakaria
4. Metode Permainan-Permainan Edukatif dalam Bahasa Arab. Fathul Mujib dan Nailur Rahmawati
5. http://al-atsariyyah.com/hukum-belajar-bahasa-arab.html

Dikirim pada 13 Januari 2012 di Bahasa Arab
Awal « 1 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah yamaru ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 7.343 kali


connect with ABATASA